Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyerukan agar Indonesia dijadikan sebagai rumah besar yang inklusif bagi seluruh umat beragama. Ajakan ini disampaikan saat beliau menghadiri Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Minggu malam, 10 Agustus 2025. Acara tersebut diinisiasi oleh Pengurus Besar (PB) Jamiyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh Ahlussunnah Wal Jamaah (Jatma Aswaja), sebuah organisasi yang berfokus pada pengembangan dan pelestarian ajaran tasawuf dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Kehadiran Menag Nasaruddin Umar dalam acara tersebut menjadi simbol pentingnya sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan dalam upaya membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Beliau menekankan bahwa Indonesia, dengan keragaman budaya, etnis, dan agama yang dimilikinya, harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua warganya, tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Dalam pidatonya, Menag Umar menyampaikan apresiasi kepada Jatma Aswaja atas inisiatif penyelenggaraan Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara. Beliau menilai bahwa kegiatan semacam ini sangat relevan dalam konteks tantangan kebangsaan yang semakin kompleks. Zikir, menurutnya, bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga merupakan sarana untuk memperkuat spiritualitas dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Ikrar Bela Negara, di sisi lain, merupakan wujud komitmen untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Also Read
Menag Umar menggambarkan acara Zikir Kebangsaan sebagai sebuah resepsi perkawinan yang sakral. Pertama, perkawinan antara agama dan bangsa, yang menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dapat menjadi landasan moral dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, perkawinan antara syariah dan tasawuf, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek formal dan spiritual dalam beragama. Syariah, sebagai hukum agama, memberikan panduan tentang bagaimana beribadah dan berinteraksi dengan sesama. Tasawuf, sebagai dimensi spiritual agama, membantu manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mencapai kesempurnaan jiwa. Ketiga, perkawinan antara para penghuni langit dan para penghuni bumi, yang melambangkan harmoni antara alam semesta dan manusia.
Lebih lanjut, Menag Umar menjelaskan bahwa Zikir Kebangsaan bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga merupakan momentum untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan dan perjuangan para pahlawan. Beliau mengajak seluruh masyarakat untuk meneladani semangat juang para pendahulu bangsa yang telah berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Semangat tersebut harus terus diwariskan kepada generasi muda agar mereka memiliki rasa cinta tanah air yang kuat dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Menag Umar juga menyoroti pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama. Beliau mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang multikultural dan multireligius, sehingga perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi sumber konflik dan perpecahan. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan yang memperkaya khazanah budaya dan peradaban bangsa.
Untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama, Menag Umar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengembangkan sikap toleransi, saling menghormati, dan saling memahami. Beliau menekankan bahwa setiap orang berhak untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing tanpa merasa takut atau terancam. Negara, menurutnya, memiliki kewajiban untuk melindungi hak-hak setiap warga negara dalam beragama dan berkeyakinan.
Selain itu, Menag Umar juga mengajak seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Beliau berharap agar para tokoh agama dapat memberikan contoh yang baik dalam berinteraksi dengan umat agama lain. Para tokoh masyarakat juga diharapkan dapat menjadi mediator dalam menyelesaikan konflik yang mungkin timbul di tengah masyarakat.
Menag Umar juga menyinggung tentang pentingnya pendidikan agama dalam membangun karakter bangsa. Beliau mengatakan bahwa pendidikan agama bukan hanya sekadar memberikan pengetahuan tentang ajaran agama, tetapi juga membentuk karakter yang berakhlak mulia, jujur, adil, dan bertanggung jawab. Pendidikan agama juga harus mengajarkan tentang pentingnya toleransi, kerukunan, dan cinta tanah air.
Untuk itu, Menag Umar mendorong agar pendidikan agama di sekolah-sekolah ditingkatkan kualitasnya. Beliau juga mengajak seluruh orang tua untuk berperan aktif dalam mendidik anak-anak mereka tentang nilai-nilai agama. Keluarga, menurutnya, adalah tempat pertama dan utama bagi anak-anak untuk belajar tentang agama dan moral.
Menag Umar juga mengingatkan tentang bahaya radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama. Beliau mengatakan bahwa radikalisme dan terorisme adalah musuh bersama yang harus dilawan oleh seluruh elemen masyarakat. Radikalisme dan terorisme tidak hanya merusak citra agama, tetapi juga mengancam keamanan dan stabilitas negara.
Untuk mencegah penyebaran radikalisme dan terorisme, Menag Umar mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melaporkan kepada pihak berwajib jika menemukan indikasi adanya aktivitas radikal atau terorisme di lingkungan sekitar. Beliau juga mengajak seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar tentang agama kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda radikal.
Menag Umar menutup pidatonya dengan mengajak seluruh masyarakat untuk terus berdoa agar Indonesia selalu diberikan kedamaian, keamanan, dan kesejahteraan. Beliau berharap agar Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam membangun kerukunan antarumat beragama dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Acara Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara di Masjid Istiqlal tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai daerah di Indonesia. Selain zikir dan ikrar, acara tersebut juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seni dan budaya Islam, seperti pembacaan Al-Qur’an, shalawat, dan penampilan hadrah. Acara tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah.
Keberadaan acara Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara ini menjadi bukti bahwa agama dan nasionalisme dapat berjalan beriringan. Agama dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk mencintai tanah air dan membangun bangsa. Nasionalisme, di sisi lain, dapat menjadi wadah untuk mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan semangat Zikir Kebangsaan, diharapkan seluruh masyarakat Indonesia dapat semakin bersatu dan padu dalam membangun Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang damai, adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Indonesia yang menjadi rumah besar bagi seluruh umat beragama. Indonesia yang menjadi kebanggaan bagi seluruh warganya.











