Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci utama bagi Indonesia untuk bersaing dan unggul dalam kompetisi global yang semakin ketat. Penegasan ini disampaikan Tito dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, beberapa waktu lalu, menyoroti pentingnya fokus pada peningkatan kualitas SDM di tengah potensi besar yang dimiliki Indonesia.
Tito Karnavian menekankan bahwa Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi negara maju, terutama dalam hal kekayaan sumber daya alam (SDA). Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan alam saja tidak cukup untuk menjamin kemajuan suatu bangsa. Negara-negara maju di dunia, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan India, memang memiliki SDA yang melimpah, tetapi faktor yang paling menentukan keberhasilan mereka adalah kualitas SDM yang unggul.
"Jangan terlalu bangga dengan kekayaan alam. Negara itu maju bukan karena SDA, tapi karena SDM. Kunci utama adalah pendidikan," tegas Tito, menekankan bahwa investasi dalam pendidikan dan pengembangan SDM adalah fondasi utama untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan.
Also Read
Menurut Tito, Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi, di mana sekitar 68,95 persen dari total populasi berada dalam usia produktif (15-64 tahun). Bonus demografi ini merupakan potensi besar yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Namun, bonus demografi tidak akan memberikan dampak positif jika tidak diiringi dengan peningkatan kualitas SDM. Oleh karena itu, Tito menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda Indonesia melalui pendidikan dan kesehatan yang berkualitas agar mampu menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045.
Peningkatan kualitas SDM, menurut Tito, harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan berbagai aspek, mulai dari pendidikan formal, pendidikan non-formal, pelatihan keterampilan, hingga peningkatan kesehatan dan gizi masyarakat. Pendidikan formal harus mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, kreatif, inovatif, dan memiliki daya saing tinggi di pasar kerja global. Pendidikan non-formal dan pelatihan keterampilan harus mampu membekali masyarakat dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan menciptakan lapangan kerja baru. Sementara itu, peningkatan kesehatan dan gizi masyarakat akan menciptakan SDM yang sehat, kuat, dan produktif.
Tito juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghasilkan SDM yang berkualitas. Perguruan tinggi harus mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, problem solving, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Selain itu, perguruan tinggi juga harus mampu menjalin kerjasama dengan dunia industri dan pemerintah untuk memastikan bahwa kurikulum dan program pendidikan yang ditawarkan relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Dalam konteks Universitas Sriwijaya sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, Tito berharap agar Unsri dapat berperan aktif dalam meningkatkan kualitas SDM di Sumatera Selatan dan Indonesia secara umum. Unsri harus mampu menjadi pusat unggulan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menghasilkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah dan nasional.
Tito juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan SDM. Pemerintah daerah harus mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif, menyediakan infrastruktur yang memadai, serta memberikan dukungan kepada sektor pendidikan dan pelatihan. Selain itu, pemerintah daerah juga harus mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar SDM yang berkualitas tidak hanya bekerja di luar daerah, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Lebih lanjut, Tito Karnavian menjelaskan bahwa kompetisi global saat ini tidak hanya terbatas pada persaingan ekonomi, tetapi juga persaingan dalam bidang teknologi, inovasi, dan kreativitas. Oleh karena itu, Indonesia harus mampu menghasilkan SDM yang tidak hanya kompeten dalam bidangnya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berinovasi dan menciptakan nilai tambah.
Untuk mencapai hal tersebut, Tito menekankan pentingnya mengembangkan ekosistem inovasi yang kondusif, yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Pemerintah harus mampu memberikan dukungan finansial dan regulasi yang memadai untuk mendorong inovasi. Perguruan tinggi harus mampu menjadi pusat penelitian dan pengembangan teknologi. Industri harus mampu mengadopsi teknologi baru dan menciptakan produk dan layanan yang inovatif. Masyarakat harus mampu berpartisipasi aktif dalam proses inovasi dan memberikan masukan yang konstruktif.
Selain itu, Tito juga menyoroti pentingnya mengembangkan budaya kewirausahaan di kalangan generasi muda. Kewirausahaan merupakan salah satu kunci untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah dan perguruan tinggi harus mampu memberikan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan yang berkualitas, serta memberikan dukungan kepada para wirausahawan muda dalam mengembangkan bisnis mereka.
Dalam menghadapi kompetisi global yang semakin ketat, Tito Karnavian mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu padu dan bekerja keras dalam meningkatkan kualitas SDM. Ia yakin bahwa dengan SDM yang berkualitas, Indonesia akan mampu menjadi negara maju dan sejahtera di masa depan.
"Kita harus bekerja keras dan bersatu padu untuk meningkatkan kualitas SDM kita. Dengan SDM yang berkualitas, kita akan mampu bersaing dan unggul dalam kompetisi global," pungkas Tito Karnavian.
Pernyataan Mendagri Tito Karnavian ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia untuk memprioritaskan pembangunan SDM sebagai investasi jangka panjang untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Dengan fokus yang tepat pada peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan inovasi, Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi yang dimilikinya dan meraih Indonesia Emas 2045 yang diidam-idamkan.











